Menggali Hikmah: di Balik Tradisi “Lebaran Anak Yatim” pada Bulan Muharram

 

Menggali Hikmah: di Balik Tradisi “Lebaran Anak Yatim” pada Bulan Muharram

Dalam kalender Islam, Muharram adalah nama bulan pertama dalam penanggalan Hijriah yang juga menjadi tanda peringatan tahun baru Islam. Muharram merupakan salah satu dari empat bulan suci (bulan haram) di dalam Islam.

Banyak peristiwa besar yang terjadi di bulan Muharram. Selain penetapan awal kalender Hijriah, bulan ini juga berisikan banyak mukjizat dan keselamatan para Nabi. Seperti penyelamatan Nabi Musa dari Firaun dan penerimaan taubat Nabi Adam. Peristiwa bersejarah ini kemudian memotivasi umat Islam untuk memperbanyak amal saleh, salah satunya menyantuni anak yatim.

Mengapa Bulan Muharram Begitu Lekat dengan Julukan “Lebaran Anak Yatim?”

Secara syariat Islam, tidak ada hari raya resmi ketiga selain Idul Fitri dan Idul Adha. Namun, istilah “Lebaran Anak Yatim” muncul sebagai ungkapan (majas) karena pada momen tersebut, anak-anak yatim menjadi pusat perhatian, kasih sayang, dan kegembiraan secara serentak di berbagai daerah.

Puncak dari maraknya kegiatan ini biasanya terjadi pada tanggal 10 Muharram (Hari Asyura). Pada hari tersebut, masjid, mushala, yayasan sosial, komunitas, hingga instansi pemerintah berbondong-bondong mengadakan acara santunan massal.

Berikut adalah faktor-faktor utama mengapa julukan tersebut melekat sangat kuat pada bulan Muharram:

  1. Tradisi Mengusap Kepala Anak Yatim pada Hari Asyura (10 Muharram)

Terdapat anjuran dari para ulama klasik, salah satunya tercantum dalam kitab Tanbihul Ghafilin karya Abu Laits As-Samarqandi yang menyatakan bahwa orang yang mengusap kepala anak yatim pada hari Asyura akan diangkat derajatnya oleh Allah sebanyak rambut yang diusapnya. Istilah “mengusap kepala” ini dimaknai secara mendalam oleh masyarakat sebagai simbol pemberian kasih sayang.

  1. Pengaruh Nilai Budaya Gotong Royong

Masyarakat Indonesia sudah terkenal dengan kedermawanan, dan memiliki nilai sosial yang tinggi. Sehingga istilah lebaran anak yatim lahir dari sebuah kearifan lokal. Masyarakat mengadakan acara santunan, doa bersama, dan memberikan bingkisan atau pakaian baru, persis seperti suasana perayaan hari raya (lebaran).

  1. Peristiwa Karbala

Jika ditarik dengan garis historis, tepatnya pada pertempuran Karbala yang menewaskan cucu Rasulullah SAW, Hussein bin Ali, dan menyisakan banyak anak yatim dari keluarga nabi. Hal ini memperkuat empati terhadap anak-anak yang kehilangan ayah mereka dalam pertempuran yang terjadi di bulan Muharram ini.

Hikmah Utama Memuliakan Anak Yatim di Bulan Muharram

  1. Pembersih Jiwa dan Harta

Sedekah yang tulus bertindak seperti air yang memadamkan api, meleburkan kesalahan-kesalahan yang mengotori jiwa.

Rasulullah SAW pernah bersabda kepada seseorang yang mengadukan kekerasan hatinya: “Jika kamu ingin melunakkan hatimu, berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.”

(HR. Ahmad).

Sedekah juga berfungsi sebagai benteng perlindungan, menjaga harta dari musibah, kerugian, dan keburukan lainnya, serta menjadi pembuka pintu rezeki yang berkah untuk bulan-bulan berikutnya.

  1. Penguat Solidaritas Sosial

Mencegah terjadinya kesenjangan yang terjadi di lingkup sosial dengan memastikan anak-anak kurang beruntung tetap mendapatkan akses kebutuhan pokok, pendidikan, dan hiburan yang layak.

  1. Investasi Akhirat

Menjadi pelindung anak yatim adalah tiket utama untuk meraih posisi paling dekat dengan Nabi Muhammad SAW di akhirat, yang digambarkan seperti jarak antara jari telunjuk dan jari tengah. Rasulullah SAW sendiri adalah seorang yatim yang sangat mencintai anak yatim, sehingga mengasihi mereka berarti meneladani perilaku terbaik beliau.

Muharam menjadi ruang untuk menghadirkan kebahagiaan, perhatian, dan kebersamaan bagi anak yatim. Di bulan yang suci dan penuh makna ini, mari bersama mewujudkan lebaran yang ditunggu anak yatim. Karena senyuman yang menghiasi wajah mereka, adalah investasi akhirat yang menghantarkan kita untuk meraih posisi paling dekat dengan Nabi Muhammad SAW.