Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Belum Pulih Sejak Juni 2026

Krisis kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda pulih sejak Juni 2026. Memasuki bulan Oktober, ratusan ribu warga terdampak  di 6 provinsi prioritas, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan, mulai memadati fasilitas kesehatan akibat infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Tim Penanganan Karhutla BNPB menyatakan per 11 Oktober luas terbakar 24h terakhir mencapai 568, 63 Ha dari akumulasi 6 provinsi. Sementara Data Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan mencatat total hotspot mencapai 6.900 titik. Sekitar 451, 39 Ha luas ditangani per 11 Oktober.

Berdasarkan laporan BNPB luas lahan yang sudah dipaham mencapai 129, 899, 59 Ha dengan  sisa area terbakar di 6 provinsi kini menyusut menjadi 639, 23 Ha, dengan fokus penanganan utama ke wilayah Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan, termasuk kawasan konservasi Taman Nasional Tanjung Puting per tanggal 12 Oktober kemarin. Didukung lebih dari 60.000 personel gabungan serta operasi water bombing dan modifikasi cuaca.

Data surveilans kesehatan nasional mencatat setidaknya 174.694 warga terkena Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat paparan polutan halus PM2,5 yang terkandung dalam asap karhutla. Ironisnya, ancaman ini paling banyak melumpuhkan kelompok rentan yang tidak berdaya, di mana 40.363 anak usia balita (di bawah lima tahun) dilaporkan ikut menjadi korban infeksi pernapasan akut tersebut.

ISPA tidak hanya menyerang manusia, berdasarkan laporan medis lapangan per Oktober 2026 sebanyak 47 ekor Orangutan Terkonfirmasi ISPA di pusat rehabilitasi Yayasan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Nyaru Menteng, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, akibat kepungan asap pekat. Orangutan-orangutan ini menunjukkan gejala yang mirip dengan manusia, seperti batuk-batuk, lemas, dan sesak napas

Penanganan kebakaran hutan dan lahan di 6 provinsi prioritas terus berlangsung melalui berbagai upaya di lapangan. Sementara menekan angka jatuhnya korban jiwa di pemukiman, BNPB bersama Kemenkes terus memaksimalkan sistem triase darurat di fasilitas kesehatan, mendistribusikan ratusan ribu bantuan logistik oksigen konsentrator, serta mempercepat pemadaman lewat water bombing dan teknologi modifikasi cuaca guna mengembalikan hak masyarakat atas udara bersih.

Kontributor: Siti Latifah