
Setiap Muharam tiba, kami diingatkan bahwa masih ada anak-anak yang tumbuh tanpa orang tua, namun tetap berusaha tersenyum dan menjalani hari dengan kuat. Di balik senyum itu, ada kebutuhan sederhana yang tidak selalu mudah mereka penuhi sendiri. Dari situlah Program Belanja Bersama Adik Yatim hadir sebagai ikhtiar untuk menghadirkan kebahagiaan sekaligus membantu memenuhi kebutuhan mereka di momen Muharam.
Melalui program ini, mereka diberi kesempatan untuk memilih sendiri kebutuhan dan makanan yang mereka inginkan sesuai kebutuhan masing-masing. Lebih dari sekadar bantuan, program ini ingin menghadirkan perhatian, kebebasan memilih, dan hangatnya kebersamaan dari banyak orang yang peduli terhadap mereka (adik yatim).

Salah satu momen paling membekas terjadi saat program ini berlangsung di pusat pembelanjaan.
Hari itu, adik-adik bebas memilih barang yang mereka inginkan. Kami membayangkan mereka akan langsung mengambil makanan favorit dengan penuh semangat. Namun kenyataannya berbeda.
Seorang anak memegang makanan yang sudah lama ia lihat. Ia menatap barang itu lalu label harga di rak, kemudian bertanya pelan, “Kak, yang ini boleh?”
Tidak lama kemudian ia kembali bertanya, “Ini kemahalan nggak ya, Kak?”
Dari situ kami sadar, yang mereka pikirkan bukan sekadar ingin atau tidak, tetapi apakah mereka “boleh” mengambilnya.
Di tengah itu semua, ada satu momen yang paling mengena. Seorang anak berhenti di area kebutuhan pokok. Saat ditanya, ia menunjuk beras dan berkata pelan, “Buat Ibu aja, Kak.”
Jawaban itu membuat kami terdiam.
Saat anak lain memilih makanan untuk dirinya, ia justru memikirkan keluarganya terlebih dahulu. Dari situ terlihat bagaimana sebagian dari mereka terbiasa menahan keinginan dan lebih dulu memikirkan orang lain. Mungkin karena keadaan membuat mereka lebih cepat dewasa. Mungkin karena mereka terbiasa hidup dengan cukup. Atau mungkin karena mereka tidak ingin menjadi beban bagi keluarga yang merawat mereka.

Dari pengalaman itu, kami belajar bahwa Muharam bukan hanya tentang memberi bantuan. Lebih dari itu, ini tentang menghadirkan ruang untuk mereka merasa diperhatikan, dihargai, dan tidak sendiri.
Melihat mereka tersenyum di tengah keterbatasan, menjadi pengingat bagi kita bahwa sekecil apa pun kepedulian yang diberikan, bisa berarti besar bagi mereka yang sedang berjuang tumbuh tanpa kehadiran orang tua. Karena itu, mari ikut membuka ruang kebaikan, agar lebih banyak adik yatim yang bisa merasakan hangatnya perhatian dan tidak merasa berjalan sendirian. Melalui kegiatan ini, mereka bisa bermain, memilih, dan merasakan hal sederhana yang mungkin jarang mereka dapatkan dalam keseharian.