Ketika rasa malas datang, berbaring sering menjadi cara paling nyaman untuk melarikan diri. Menghabiskan waktu berjam-jam dengan scroll media sosial, menunda pekerjaan, atau menghabiskan waktu tanpa tujuan mungkin tampak menyenangkan sesaat, tetapi akhirnya menyebabkan rasa bersalah dan waktu yang terbuang sia-sia. Meskipun demikian, rebahan sendiri tidak selalu merugikan, selama diisi dengan bahan berharga. Menurut agama Islam, setiap waktu yang diberikan Allah adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di masa mendatang. Berikut adalah beberapa dalil Al-Qur’an yang dapat digunakan sebagai pengingat dan nasihat untuk menggunakan waktu rebahan Anda untuk menghasilkan keberkahan.
- Sadari bahwa Waktu adalah Amanah yang Akan Dipertanggungjawabkan
Langkah pertama untuk mengatasi malas adalah memahami bahwa waktu bukan milik kita sepenuhnya, Allah SWT berfirman :
وَالْعَصْرِ ١اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ٢اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِࣖ ٣
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.”(QS. Al-‘Ashr [103]: 1-3)
Ayat ini mengingatkan bahwa waktu yang berlalu tanpa diisi dengan iman, amal saleh, dan kebaikan hanya akan berujung pada kerugian. Rebahan yang dilakukan tanpa kesadaran ini mudah menjadi waktu yang terbuang percuma.
- Berlomba-lomba dalam Kebaikan, Bukan Menunda-nunda
Seringkali, rasa malas disebabkan oleh kebiasaan menunda pekerjaan atau ibadah dengan alasan “nanti saja”. Namun, Allah SWT mengajarkan sikap yang sebaliknya, yaitu bersegera dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Allah SWT berfirman:
وَلِكُلٍّ وِّجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِ
“Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.”(QS. Al-Baqarah [2]: 148)
Menyadari ayat ini dapat menjadi pengingat bahwa setiap waktu yang terlewat tanpa kebaikan adalah kesempatan yang hilang. Mulailah dengan tugas kecil, satu langkah demi satu langkah, alih-alih menunggu mood yang tidak pasti datangnya.
- Ubah Rebahan Menjadi Waktu Berdzikir yang Berpahala
Jika tubuh benar-benar lelah dan membutuhkan rebahan, jangan jadikan waktu itu kosong begitu saja. Islam memberi keluasan dalam berdzikir, bahkan saat berbaring sekalipun. Allah SWT berfirman:
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring.”(QS. Ali ‘Imran [3]: 191)
Rebahan sambil melafalkan istighfar, shalawat, atau tasbih mengubah waktu istirahat yang biasanya hampa menjadi ladang pahala. Meskipun bersantai, hati tetap terhubung dengan Allah.
- Seimbangkan antara Istirahat dan Produktivitas
Mengatasi malas bukan berarti harus terus bergerak tanpa jeda. Islam mengajarkan ritme yang seimbang antara bekerja dan beristirahat, sehingga rebahan pun memiliki tempatnya asal tidak berlebihan. Allah SWT berfirman:
فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ ۙ ٧وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْࣖ ٨
“Apabila engkau telah selesai (dengan suatu kebajikan), teruslah bekerja keras (untuk kebajikan yang lain). dan hanya kepada Tuhanmu berharaplah!”(QS. Al-Insyirah [94]: 7-8)
Selama tidak menjadi alasan untuk menunda tugas berikutnya, rebahan sejenak setelah menyelesaikan tugas adalah hal yang wajar dan sehat. Istirahat harus dianggap sebagai jeda dan bukan tujuan akhir.
Al-Qur’an memberikan saran dalam menangani rasa malas, mulai dari menyadari nilai waktu, bersegera dalam kebaikan, mengisi rebahan dengan dzikir, dan mencapai keseimbangan antara produktivitas dan istirahat. Rebahan, yang awalnya terkait dengan kemalasan, dapat berubah menjadi waktu yang penuh berkah dan bernilai ibadah dengan menerapkan nilai-nilai ini dalam kehidupan sehari-hari.
Kontrbusi : Imelda Rizky