Bijak Bermedia Sosial dalam Islam: Menjaga Lisan dari Ghibah dan Fitnah Digital

Media sosial sekarang menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Kita dapat membaca, mengomentari, dan bahkan mengirimkan berita kepada ribuan orang dalam hitungan detik. Namun, kemudahan ini sangat berbahaya jika tidak digunakan dengan hati-hati. Akibatnya, mengetik dengan jari atau menekan tombol “bagikan” memiliki efek yang sebanding dengan berbicara lisan. Jauh sebelum munculnya media sosial, agama Islam telah mengatur cara berkomunikasi. Untuk mencegah diri kita  dari hal-hak tidak baik yang tak disadari, prinsip-prinsip ini masih relevan dan bahkan lebih penting untuk dipegang di era modern.

  1. Dilarang Menggunjing (Ghibah)

Membicarakan keburukan orang lain di grup chat, kolom komentar, atau story, meskipun itu benar, termasuk perbuatan ghibah yang tidak dibolehkan oleh Islam. Allah SWT menggunakan perumpamaan yang sangat menyentuh hati untuk menunjukkan betapa tidak baiknya tindakan ini:

وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ

“…dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik…” (QS. Al-Hujurat [49]: 12)

Setiap kali membagikan kekurangan, atau kesalahan orang lain di media sosial, bahkan jika itu hanya bercanda, kita sedang membunuh saudara kita sendiri di hadapan Allah.

  1. Tabayyun, Cek Kebenaran Sebelum Menyebarkan Berita

Satu masalah dengan media sosial adalah betapa cepatnya informasi tersebar tanpa diketahui apakah benar atau tidak. Prinsip tabayyun, yang berarti menjamin kebenaran informasi sebelum disebarluaskan, diajarkan dalam agama Islam. Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ ۝٦

“Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat [49]: 6)

Ayat ini mengingatkan kita untuk memeriksa sumber dan kebenaran berita sebelum menekan tombol bagikan atau repost, karena menyebarkan informasi yang salah dapat fatal bagi banyak orang.

  1. Larangan Menyebarluaskan Berita Keji (Fitnah Digital)

Ujaran kebencian, hoaks, dan gosip yang disebarluaskan dengan sengaja untuk mencemarkan reputasi seseorang, termasuk fitnah digital yang diancam dengan azab yang pedih. Allah SWT berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ اَنْ تَشِيْعَ الْفَاحِشَةُ فِى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌۙ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ۝١٩

“Sesungguhnya orang-orang yang senang atas tersebarnya (berita bohong) yang sangat keji itu di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang sangat pedih di dunia dan di akhirat. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui..”(QS. An-Nur [24]: 19)

Ayat ini menjadi peringatan keras bagi siapa pun yang suka menyebarkan konten negatif, memviralkan aib orang lain, atau terlibat dalam perundungan digital, juga dikenal sebagai cyberbullying, dalam peran apa pun.

  1. Setiap Postingan Akan Dimintai Pertanggungjawaban

Tidak ada satu pun jejak digital yang luput dari catatan Allah SWT, termasuk komentar sekilas dan status yang tampaknya tidak penting. Allah SWT mengingatkan:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا ۝٣٦

“Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”(QS. Al-Isra [17]: 36)

Menurut ayat ini, apa yang kita lihat, dengar, dan yakini di dunia maya kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Oleh karena itu, sebelum mengikuti, berkomentar, atau berbagi sesuatu, kita harus benar-benar memahami kebenarannya.

 

Media sosial seperti pisau bermata dua: jika digunakan untuk berbagi kebaikan dan pengetahuan, ia dapat menjadi ladang pahala, tetapi juga dapat menjadi ladang dosa jika dipenuhi dengan ghibah, fitnah, dan berita bohong. Empat alasan di atas mengajarkan kita untuk menghindari kritik, memastikan kebenaran sebelum menyebarkannya, menghindari penyebaran informasi negatif, dan mengakui bahwa setiap rekaman digital akan dimintai pertanggungjawaban. Sebagai muslim yang bijak, mari kita gunakan jari-jemari kita untuk membantu orang lain.

Kontributor: Imelda Rizky A